oleh

Aduh, Masuk Blacklist Bi Atau Enggak Ya? Jikalau Iya, Gimana Keluarnya?

Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Perumpamaan itu cocok buat mereka yang sebelumnya senantiasa melunasi kredit dari bank tetapi kemudian ceroboh dan membiarkan utang ke bank menumpuk.

Mereka yang ceroboh menunaikan keharusan selaku debitur atau orang yang mendapat pinjaman dari bank ini akan mendapat “hukuman” dari Bank Indonesia berupa persoalan dalam mendapatkan kredit baru.

Bahkan persoalan ini sanggup berupa larangan. Artinya, mereka tak sanggup mencairkan kredit apa pun dari bank mana pun.

Bank Indonesia mempunyai metode yang otomatis mendata penduduk yang memakai akomodasi kredit dari bank dan forum keuangan, misalnya kartu kredit. Jika nasabah mempunyai persoalan dalam melunasi tagihan kartu kredit, beliau akan dimasukkan ke dalam daftar yang terkenal dengan istilah daftar blacklist Bank Indonesia.

Bank Indonesia menerapkan metode skor untuk menganggap peringkat kredit seseorang. Debitur akan mendapat peringkat 1 jikalau senantiasa melunasi cicilan sempurna waktu.

Dia akan mendapat ranking 3 jikalau menunggak tetapi tunggakannya belum hingga 270 hari. Jika sudah menunggak lebih dari 270 hari, beliau akan berada di peringkat 5 atau yang paling bawah.

Misalnya Benny mempunyai kartu kredit dan pada setahun pertama senantiasa melunasi tagihan sempurna waktu. Tapi pada tahun kedua beliau keblinger memakai kartu kredit itu sehingga tagihannya membengkak.

Cukup usang beliau jadi kesusahan mengeluarkan duit per bulan hingga kesudahannya ditentukan kreditnya macet. Dia gagal melunasi tagihan hingga 10 bulan atau sekitar 300 hari.

Dengan demikian, peringkat kredit Benny di Bank Indonesia merosot dari 1 ke 5. Benny akan diberi waktu 3 bulan untuk melunasi tagihannya biar sanggup kembali naik ke peringkat 1.

Jika tak sanggup, sanggup ditentukan beliau akan ditolak jikalau mengajukan kredit lagi ke bank, misalnya kredit pemilikan rumah (KPR). Seram juga, kan?

Cek Peringkat dan Perbaiki Ranking

Untuk mendapatkan data peringkat kredit (BI checking), kita sanggup mendatangi gerai Bank Indonesia langsung. Tapi, jikalau tak sempat, kita sanggup membuka situs Bank Indonesia. Kita juga sanggup meminta pemberian forum keuangan angggota Biro Informasi Kredit yang menyediakan akomodasi dana/pembiayaan terhadap kita.

Di kepingan Biro Informasi Kredit, tersedia isu seputar IDI Historis. IDI ialah akronim dari Informasi Debitur Individual. Di dalamnya menampung riwayat pembayaran kredit masing-masing nasabah.

proses bi
Mau seruan diproses artinya kita juga mesti mengikuti proses, ya (mekanisme BI Checking/BI)

Kita mesti mengisi formulir yang sudah ditawarkan BI untuk mendapat isu peringkat kredit. Setelah mengisi formulir dan mengirimnya melalui situs BI, kita mesti menanti respon berupa isu bahwa IDI Historis sanggup diambil di Gerai Bank Indonesia pada hari dan jam tertentu dengan menenteng syarat yang diperlukan.

Kalau kita merasa sudah melunasi semua cicilan ke bank tetapi masih berada di peringkat 3 atau bahkan 5, kita sanggup mengajukan komplain ke bank terkait. Dalam IDI Historis tercatat tagihan ke bank mana saja yang sudah dan belum lunas.

Misalnya kita merasa cicilan di bank A sudah lunas tetapi di IDI Historis masih tercatat menunggak, kita sanggup mendatangi bank A dan minta penjelasan. Bank biasanya akan mengatasi pengaduan secara verbal dalam 2 hari kerja.

Jika bank belum sanggup menyediakan klarifikasi dalam 2 hari, lazimnya kita akan diminta menghasilkan pengaduan secara tertulis. Bank itu kemudian akan berupaya menyelesaikannya dalam 20 hari. Jika masih belum ada solusi, Bank Indonesia akan turun tangan.

Kita tak akan pernah sanggup mendapat kredit gres selama belum berada di peringkat 1. Kita diberi waktu enam bulan untuk melunasi utang biar sanggup duduk di peringkat 1 dan kembali mengajukan kredit. Ingat, ya. Isu yang menyampaikan blacklist otomatis hilang setelah lima tahun tak sanggup dibuktikan.

Hati-hati Pakai Kartu Kredit

Peringkat kredit yang jeblok di BI biasanya disebabkan oleh kurang disiplinnya pengguna kartu kredit. Kartu kredit yaitu akomodasi pinjaman dana dari bank yang tidak membutuhkan jaminan, sehingga bank akan menerapkan bunga yang tinggi apabila penggunanya tidak disiplin dalam mengeluarkan duit cicilan.

Jika kita merasa kurang disiplin dalam mengendalikan keuangan, lebih baik urungkan niat memakai kartu kredit untuk bertransaksi. Atau, jikalau sudah punya kartu kredit, kita mesti menggunakannya dengan bijak.

Misalnya tidak memakai kartu kredit untuk modal membuka kerja keras sepenuhnya. Kartu kredit boleh dipakai selaku modal kerja keras asal sudah punya perkiraan untuk melunasinya dan dipakai untuk menutup kekurangan-kekurangan kecil yang sanggup pribadi dilunasi pada selesai bulan biar tak terkena bunga.

Kartu kredit tidak diusulkan dipakai untuk modal usaha. Jika ingin membuka usaha, kita sanggup memakai akomodasi kredit lain dari bank yang bunganya lebih bersahabat.

Misalnya pinjaman pribadi dengan jaminan berupa aset, antara lain, kendaraan atau kerja keras itu sendiri. Tentu fisik kendaraan atau kerja keras tak perlu kita berikan ke bank, tetapi cukup surat-suratnya.

Adapun dana cadangan diusulkan berasal dari tabungan, bukan kartu kredit. Sebab, jikalau dana cadangan berasal dari kartu kredit, itu sama saja kita merencanakan utang dengan bunga yang tinggi untuk mengeluarkan duit kebutuhan yang mendesak.

Bisa-bisa kita malah sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah berutang untuk mengeluarkan duit kebutuhan yang mendesak, masih mesti melunasi tagihan dengan bunga yang tinggi.

Iya kalau pendapatan kita cukup untuk mengeluarkan duit cicilan hingga lunas. Kalau tidak, risiko masuk blacklist BI ada di depan mata.

News Feed