Menu
Info seputar keuangan peminjaman uang di seluruh Indonesia

Awas Krisis di Depan Mata: Utang, ‘Bom’ Inflasi, Bubble China – TPMNews

  • Bagikan

Jakarta, CNBC Indonesia – Tidak ada satupun orang di dunia ini yang menginginkan krisis terjadi. Namun sayang hukum alam menghendaki sebaliknya karena kata ‘krisis’ adalah sebuah keniscayaan. Belum juga resesi akibat pandemi Covid-19 usai, dunia harus menghadapi ancaman krisis yang sudah di depan mata.

Dalam sejarah peradaban manusia, krisis ekonomi terjadi karena banyak hal. Mulai dari perang, penyaluran kredit yang ugal-ugalan, inovasi keuangan yang kebablasan dan yang paling baru kita alami adalah pandemi.

Setelah pandemi, krisis di masa mendatang kemungkinan disebabkan oleh ancaman terhadap stabilitas ekonomi. Semua orang menghendaki ekonomi bertumbuh (ekspansif) karena ketika total output dalam suatu perekonomian meningkat, pendapatan setiap pelakunya (masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah) juga ikut naik.

Sayangnya pertumbuhan ekonomi tidak selalu dibarengi dengan stabilitas. Padahal stabilitas merupakan kunci utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam satu abad terakhir krisis terjadi berulangkali di berbagai belahan dunia, dari yang paling fenomenal seperti The Great Depression 1929-39, Asian Financial Crisis 1997 dan Global Financial Crisis 2008. Ketiga krisis di atas disebabkan oleh stabilitas yang terguncang.

Resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19 memang berbeda dengan krisis di atas. Jika tiga yang disebutkan melibatkan institusi perbankan dan pasar keuangan, kontraksi ekonomi global tahun lalu diakibatkan karena krisis kesehatan yang menjalar luas ke berbagai negara dan sektor keuangan.

Namun buntut dari krisis tersebut adalah ancaman krisis di masa mendatang. Loh kok bisa? Tenang! Akan dijabarkan satu per satu.

Akibat kebijakan lockdown yang membatasi mobilitas manusia, dua sisi perekonomian yakni supply & demand terkena pukulan. Alhasil output perekonomian dunia mengalami penyusutan. Berbagai institusi riset maupun lembaga keuangan dunia memperkirakan produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2020 turun lebih dari 3%.

Penurunan pertama kali dalam satu dekade terakhir dan lebih besar dari krisis keuangan tahun 2008. Ketika krisis para pengambil kebijakan (bank sentral dan pemerintah) menjadi pihak yang dituntut mampu mengembalikan perekonomian ke jalur pertumbuhan.

Bank sentral pangkas suku bunga dan injeksi likuiditas. Sementara pemerintah ambil peran lewat pemberian stimulus melalui transfer bantuan sosial hingga relaksasi pajak.

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan Jepang suku bunga acuan sudah berada di tingkat yang rendah. Dipangkasnya suku bunga acuan sampai ke titik terendah (nol persen) bahkan belum mampu membuat pasar keuangan ‘kalem’ dan ekonomi bersemi.

Mau tak mau bank sentral ambil jalan lain yaitu lewat injeksi likuiditas atau dalam bahasa keren ekonominya disebut sebagai quantitative easing (QE). Banyak yang menilai QE adalah sebutan ketika bank sentral ‘mencetak uang’.

Meskipun tidak sesederhana itu tetapi sasaran QE jangka pendek adalah meningkatkan suplai likuiditas sehingga suku bunga acuan bisa lebih cepat turun ke tingkat yang efektif. Dengan begitu borrowing cost menjadi lebih murah, masyarakat dan pelaku usaha bisa melakukan ekspansi.

Di sisi lain dua kebijakan moneter tersebut membuat imbal hasil surat utang terutama pemerintah di negara maju menjadi sangat rendah dan kurang menarik. Secara psikologis investor akan mencari aset-aset yang lebih berisiko seperti saham. Inilah yang menjelaskan mengapa pasar saham global pulih lebih cepat dari ekonomi riilnya.

Pemerintah sebagai otoritas fiskal menempuh kebijakan kontrasiklikal. Penerimaan dari pajak yang turun disertai dengan peningkatan belanja pemerintah membuat defisit anggaran membengkak. Ketika pendapatan lebih kecil dari pengeluaran dan defisit terjadi maka harus ditambal. Salah satunya dengan utang.

Sumber tpmnews

  • Bagikan
id_IDIndonesian